Jun 25, 2024

Bagaimana Seharusnya Kita Mengendalikan Kecanduan Gadget pada Anak-Anak?

Bagaimana Seharusnya Kita Mengendalikan Kecanduan Gadget pada Anak-Anak? image

Pada era digital, kecanduan gadget pada anak-anak menjadi perhatian utama bagi orang tua. Penggunaan digital yang berlebihan akan berdampak negatif pada perkembangan anak secara fisik, emosional, dan sosialnya. Sebuah studi terkenal di Bangladesh mengidentifikasi hubungan yang signifikan antara kecanduan gadget yang tinggi dan fungsi kognitif yang buruk di kalangan anak-anak. Penelitian ini juga menunjukkan faktor-faktor tertentu, termasuk demografi dan dinamika keluarga. Tetapi, orang tua seharusnya tidak perlu terlalu khawatir karena kecanduan gadget dapat dikendalikan. Namun, sebelum membahas cara mengendalikan kecanduan gadget, orang tua harus mengetahui terlebih dahulu apa sih penyebab kecanduan gadget pada anak-anak. 

 

 

Penyebab Kecanduan Gadget pada Anak-Anak

 

Konten Digital yang Menarik

Kids Playing Game

Sumber: Victoria Regen (Pixabay)

Adanya aplikasi, video game, serta media sosial akan membuat anak-anak terus ingin terlibat karena fitur-fitur yang dimilikinya sangat menarik. Keterlibatan pasif pada hiburan di perangkat digital dapat memiliki dampak negatif yang signifikan dan berkontribusi pada kemungkinan anak untuk memiliki kecanduan gadget pada anak-anak. Ketika anak-anak berinteraksi dengan teknologi yang fokus mengonsumsi conten pasif, dari pada aktifitas kreatif dan aktif, dapat meningkatkan resiko untuk mereka menjadi terlalu bergantung dan kecanduan pada perangkat mereka.

Terlebih dari itu, media sosial juga dapat membuat anak merasa dihargai dan diakui karena adanya fitur “like” dan komentar yang akan membuat anak kecanduan untuk mendapatkan eksistensi. Algoritma di balik aplikasi ini dirancang untuk dapat terus menarik perhatian penggunanya. Hal ini tentu membuat anak-anak sulit untuk berhenti dan kemungkinan akan terjebak dalam penggunaan media sosial dan video game yang berlebihan.

 

Kurangnya Aktivitas Alternatif

Sumber: Freepik

Anak yang tidak memiliki aktivitas seperti hobi atau aktivitas fisik lain cenderung lebih mudah mengalami kecanduan gadget. Kekurangan pilihan aktivitas lain akan membuat anak lebih sering mengalihkan aktivitas mereka ke perangkat digital untuk mengisi waktu luang.

Beberapa studi akademis menunjukkan bahwa peningkatan waktu layar sering dikaitkan dengan tingkat perilaku sedentari yang lebih tinggi, termasuk periode duduk atau berbaring yang berkepanjangan. Dampak waktu layar terhadap tingkat aktivitas fisik sangat signifikan, dengan bukti yang menunjukkan bahwa keterlibatan layar mengarah pada penurunan aktivitas fisik dan peningkatan risiko kelebihan berat badan.

Misalnya, anak-anak yang tidak memiliki aktivitas fisik akan cepat merasa bosan. Sehingga, pilihan aktivitas yang akan dilakukan adalah dengan bermain gadget. Maka dari itu, kurangnya interaksi sosial dan kegiatan di luar rumah akan berkontribusi pada peningkatan penggunaan gadget anak Anda.

 

Peran Orang Tua dan Lingkungan

Parents Busy With Gadget

Sumber: Freepik

Anak biasanya akan meniru hal-hal yang ada di sekitar mereka. Studi telah menunjukkan bahwa anak-anak kecil sering meniru apa yang mereka lihat di layar atau apa yang dicontohkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Jika anak melihat orang tua atau orang di lingkungannya sering menggunakan gadget, maka anak pun merasa bahwa penggunaan gadget yang berlebihan adalah hal yang normal dan akan berkontribusi pada kecanduan gadget.

Contohnya adalah jika orang tua lebih sering terlihat sibuk dengan gadget-nya di depan anak mereka, anak akan menganggap bahwa perilaku tersebut merupakan hal yang bisa ia ikuti. Maka, pengaruh orang tua sangat besar dalam membentuk kebiasaan anak-anak mereka.

 

Kebutuhan Emosional

Social media addiction

Sumber: Freepik

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak sering menggunakan gadget untuk mengatasi stres, kebosanan, atau kesepian dalam kehidupan nyata. Perilaku ini dikaitkan dengan berbagai hasil kesehatan mental, dan gadget terkadang digunakan sebagai alat utama untuk mengatur emosi.  Sehingga, gadget dianggap sebagai solusi utama dalam permasalahan mereka tanpa menyadari ada hal lain yang bisa dilakukan, seperti bermain di luar, berinteraksi dengan teman, dan hal-hal lainnya.

Memang benar bahwa beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan tersebut dapat meredakan stres sementara tetapi tidak mengatasi masalah yang mendasarinya, yang dapat menyebabkan peningkatan gejala depresi dan kecemasan di kemudian hari.

Anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi atau tidak mendapatkan perhatian cukup dari orang tua, kemungkinan besar akan mencari pelariannya di dalam gadget. Hal ini bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan tanpa langkah yang tepat dari orang tua.

 

Baca Juga Artikel Lainnya:

Best 19! Sekolah Swasta dan Internasional di Kota Surabaya Barat – Biaya, Alamat, Lengkap 2024/2025

Why Website Speed is Important? How to Check a Website Speed by Yourself

 

Cara Mengendalikan Kecanduan Gadget pada Anak-Anak

 

Menetapkan Batasan Waktu Penggunaan Gadget

Screen Time Sumber: Kemenkes

Sumber: Instagram @ayosehat.kemkes

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), anak berusia di bawah 2 tahun direkomendasikan untuk tidak diberikan akses gadget. Namun, jika dibutuhkan disarankan untuk pemakaian tidak lebih dari 1 jam per hari dan harus didampingi orang tua. Anak usia 2-5 tahun waktu yang dianjurkan adalah 1 jam per hari. Pada anak usia 6-12 tahun yaitu tidak lebih dari 1,5 jam per hari. Untuk anak usia 12-18 tahun yaitu 2 jam per hari.

Orang tua bisa membuat jadwal harian yang di dalamnya mencakup waktu untuk belajar, bermain di luar, melakukan aktivitas fisik, serta waktu istirahat dapat membantu anak memahami pentingnya keseimbangan dalam penggunaan waktu mereka.

 

Memberikan Contoh yang Baik

Sumber: Freepik

Anak akan meniru kebiasaan orang tua mereka. Maka dari itu, orang tua harus memberikan contoh yang baik dalam penggunaan gadget. Tunjukkanlah kepada anak bahwa Anda memiliki batasan waktu dan memiliki aktivitas lain seperti berolahraga.

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku orang tua sangat memengaruhi kebiasaan dan sikap anak-anak terhadap teknologi. Jadi, orang tua dapat menetapkan aturan untuk tidak menggunakan gadget selama makan malam atau pertemuan keluarga. Dengan cara ini, anak-anak akan mengetahui bahwa ada waktu tertentu untuk penggunaan gadget.

 

Dorong Kegiatan Positif Lain

Aktivitas untuk anak

Sumber: Pixabay

Ajaklah anak Anda untuk melakukan berbagai kegiatan lain seperti bermain di luar rumah, menggambar, berolahraga, atau mencari hobi yang sesuai dengan minat dan bakat sang anak. Dengan memberikan pilihan kegiatan tersebut, anak-anak akan cenderung mengalihkan fokus mereka dari gadget.

Selain itu, mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau klub dapat menemukan minat baru dan membuat mereka lebih terlibat secara sosial. Hal ini dapat dikatakan efektif karena dapat mengurangi waktu mereka di depan layar.

 

Berikan Edukasi Mengenai Penggunaan Gadget

Sumber: Freepik

Menurut BMC Psychiatry, penggunaan perangkat mobile yang berlebihan di kalangan anak-anak dikaitkan dengan berbagai hasil kesehatan mental seperti kecemasan, stres, dan kinerja pendidikan yang buruk. Ajari anak Anda mengenai cara penggunaan gadget yang tidak berlebihan. Orang tua bisa memberitahukan dampak negatif dari penggunaan gadget yang berlebihan serta ajak anak berdiskusi bagaimana cara menggunakan gadget dengan bijak. Menumbuhkan pemahaman literasi digital dan penggunaan perangkat sangatah penting untuk menghindari kemungkinan kecanduan gadget bagi anak-anak. Ketika anak-anak memiliki kemampuan dan pemahaman penggunaan perangkat secara bertanggung jawab, maka mereka akan jarang bergantung dan kecanduan gadget atau perangkat digital.

Edukasi tersebut bisa berupa informasi mengenai risiko kesehatan yang ditimbulkan dari penggunaan gadget berlebihan. Dengan memahami risiko tersebut, anak-anak dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan gadget.

 

Aktifkan Kontrol Orang Tua

Kecanduan gadget

Sumber: Android Police

Di zaman serba praktis ini, orang tua tidak perlu terlalu khawatir akan aktivitas yang anak lakukan di gadget mereka. Anda dapat mengatifkan fitur Kontrol Orang Tua yang ada di perangkat gadget anak Anda. Fitur kontrol orang tua ini bisa memantau aplikasi apa saja yang digunakan anak, berapa lama menggunakannya, bahkan memblokir konten yang tidak sesuai. Tetapi, orang tua juga harus dapat memahami dan menghargai privasi anak untuk menjaga kenyamanan sang anak.

Kontrol ini bisa diakses di berbagai perangkat, seperti android, iOS, Windows, Google, bahkan di router wifi rumah Anda. Sehingga, Anda bisa lebih tenang karena dapat mengontrol aktivitas anak Anda melalui fitur ini.

 

Mengikutsertakan Anak dalam Kegiatan Edukatif

Orang tua harus memberikan pendekatan yang tepat dalam menghadapi era yang serba digital ini. Jika orang tua merasa bahwa kecanduan gadget pada anak sulit untuk diubah, maka ikut sertakan anak dalam kegiatan edukatif yang melibatkan gadget seperti penggunaan aplikasi belajar bahasa, mengikuti kelas coding dan pemrograman, ataupun penggunaan game edukasi.   


Itulah beberapa hal penting yang harus diperhatikan orang tua terhadap penggunaan gadget pada anak. Mengendalikan kecanduan gadget bisa Anda lakukan dengan memanfaatkan teknologi secara edukatif seperti yang ditawarkan Timedoor Academy. 

Timedoor Academy menawarkan kelas IT Education untuk anak tercinta Anda agar dapat terus terlibat dengan teknologi secara positif. Disini, anak akan belajar memanfaatkan teknologi, termasuk membuat dan mengembangkan game mereka sendiri.

Kami menawarkan kelas trial bagi Anda yang ingin mencobanya terlebih dahulu. Ayo, daftarkan anak Anda sekarang dan rasakan manfaatnya untuk anak Anda! Coba dengan gratis disini.

Artikel Lainnya

8 Alasan Mengapa Anak Anda Perlu Ikut Kelas Coding
8 Alasan Mengapa Anak Anda Perlu Ikut Kelas Coding
Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, coding bukan lagi keterampilan eksklusif bagi para profesional teknologi. Saat ini, coding sudah jadi salah satu bentuk literasi dasar, sama pentingnya dengan membaca, menulis, atau berhitung. Anak-anak tumbuh di tengah dunia yang dipenuhi teknologi—dari video YouTube, game online, sampai perangkat pintar yang mereka gunakan setiap hari. Daripada hanya menjadi penikmat teknologi, kenapa tidak ajarkan anak untuk jadi penciptanya? Di sinilah peran penting kelas coding. Program ini membekali anak dengan keterampilan berharga yang jauh melampaui layar. Berikut 8 alasan kenapa kelas coding bisa jadi salah satu keputusan terbaik untuk masa depan anak Anda: 1. Kelas Coding Melatih Kemampuan Problem Solving Anak Pada dasarnya, coding adalah tentang memecahkan masalah. Anak belajar bagaimana membagi tantangan besar jadi langkah-langkah kecil, mencoba berbagai solusi, dan tidak menyerah saat gagal. Proses ini melatih logika dan kesabaran mereka. Bayangkan anak Anda sedang membuat game sederhana. Karakternya seharusnya bisa melompat saat tombol ditekan, tapi tidak berhasil. Mereka akan mulai bertanya: "Apa yang salah? Apakah perintahnya benar?" Proses mencari tahu ini membangun kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna di sekolah dan kehidupan sehari-hari. 2. Kelas Coding Mengasah Kreativitas Anak Coding bukan sekadar menulis kode. Ini adalah cara anak untuk bercerita, membuat game, menghidupkan karakter, dan merancang dunia digital mereka sendiri. Lewat platform seperti Scratch atau Roblox Studio, ide-ide liar mereka bisa berubah jadi proyek nyata. Kreativitas ini juga membangun rasa percaya diri. Anak jadi tahu bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu yang seru, menarik, dan orisinal. 3. Kelas Coding Menumbuhkan Ketekunan dan Percaya Diri Coding mengajarkan bahwa gagal itu hal biasa. Bahkan, kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Saat kode tidak berjalan, anak-anak didorong untuk mencoba lagi. Dan lagi. Sampai berhasil. Lama-lama, mereka terbiasa berpikir: “Aku bisa memperbaikinya,” atau “Aku tahu cara mencari solusinya.” Pola pikir seperti ini sangat bermanfaat, baik di sekolah, olahraga, maupun dalam hubungan sosial. 4. Kelas Coding Memberikan Pembelajaran yang Terstruktur Tentu, anak bisa belajar sendiri dari video gratis di internet. Tapi kelas coding memberikan struktur yang jelas, sesuai usia dan tingkat kemampuan anak. Dengan bimbingan instruktur berpengalaman, mereka bisa bertanya, dapat dukungan, dan berkembang di lingkungan yang aman. Sama seperti belajar musik atau renang—punya pelatih itu sangat membantu. 5. Kelas Coding Membekali Anak untuk Masa Depannya Dunia kerja sedang berubah. Banyak pekerjaan yang akan ada di masa depan bahkan belum tercipta hari ini. Tapi satu hal pasti: teknologi akan jadi bagian besar dari semua bidang kerja. Dengan belajar coding, anak Anda punya modal awal yang kuat. Bahkan jika nantinya tidak menjadi programmer, mereka akan memahami cara kerja teknologi—pengetahuan yang sangat berguna di bidang apapun, dari kesehatan, bisnis, sampai seni. 6. Kelas Coding Melatih Anak untuk Bekerja Sama Banyak yang mengira coding itu pekerjaan individu. Padahal di kelas coding, anak-anak sering bekerja dalam tim. Mereka berbagi ide, membuat proyek bersama, dan memberi masukan satu sama lain. Hal ini melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama mereka—dua soft skill penting yang akan dibutuhkan dalam karier apapun di masa depan. 7. Kelas Coding Itu Menyenangkan! Yang paling penting: coding itu seru! Kalau diajarkan dengan cara yang fun dan interaktif, anak-anak akan antusias setiap kali waktunya belajar. Mereka bisa membuat game, aplikasi, bahkan cerita digital sendiri. Jadi pencipta, bukan sekadar pengguna. Dan ketika anak belajar sambil bersenang-senang, mereka akan lebih semangat dan konsisten. 8. Mulai Dini Bikin Anak Makin Percaya Diri di Dunia Digital Seperti belajar bahasa atau alat musik, coding juga lebih mudah dipelajari sejak kecil. Anak-anak cenderung penasaran, berani mencoba, dan tidak takut salah. Mereka lebih cepat menyerap hal baru. Dengan mengenalkan coding sejak dini, Anda membantu anak membangun kepercayaan diri di dunia digital. Mereka tumbuh jadi generasi yang tidak hanya nyaman dengan teknologi, tapi juga mampu menggunakannya secara aktif dan kreatif. Gimana Cara Mulai Kelas Coding untuk Anak? Tenang, Anda tidak perlu jadi ahli teknologi untuk mendukung anak. Mulailah dari platform yang ramah anak seperti Scratch, di mana mereka bisa membuat program hanya dengan drag and drop. Tapi lebih baik lagi jika Anda mendaftarkan mereka ke kelas coding yang terstruktur, sesuai usia dan gaya belajar mereka. Kelas dengan pengajar sungguhan akan membantu mereka belajar lebih cepat dan efektif. Kenapa Pilih Timedoor Academy? Di Timedoor Academy, kami membuat belajar coding jadi menyenangkan dan bermakna. Kelas kami dirancang khusus untuk pemula, dengan proyek langsung, mentor yang ramah, dan ruang besar untuk bereksplorasi. Anak-anak akan membangun game, menyelesaikan tantangan, dan—yang terpenting—menikmati proses belajarnya. Ribuan orang tua di Indonesia dan luar negeri sudah merasakan manfaatnya. Sekarang giliran Anda! Ayo, bantu anak Anda menjelajahi dunia digital secara kreatif dan percaya diri. Daftarkan ke kelas coding atau coba trial gratis di Timedoor Academy hari ini!
5 Top! Cara Meningkatkan Literasi Anak Sejak Dini
5 Top! Cara Meningkatkan Literasi Anak Sejak Dini
Di tengah perkembangan zaman yang serba digital, kemampuan literasi tetap menjadi pondasi penting dalam tumbuh kembang anak. Literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengkomunikasikan ide. Oleh karena itu, mengetahui cara meningkatkan literasi anak sejak dini adalah langkah penting yang perlu dilakukan oleh setiap orang tua. Literasi yang baik akan membantu anak menghadapi tantangan belajar di sekolah, memahami lingkungan sekitarnya, dan mengekspresikan diri dengan lebih percaya diri. Namun, proses membangun kemampuan ini tidak instan. Diperlukan pendekatan yang menyenangkan, konsisten, dan sesuai usia agar anak tidak merasa terbebani. 1. Membiasakan Anak Membaca Sejak Usia Dini Salah satu cara meningkatkan literasi anak yang paling dasar adalah mengenalkannya pada buku sejak usia dini. Membacakan buku cerita sebelum tidur, menyediakan buku bergambar, dan memperkenalkan buku sesuai minat anak dapat membentuk kebiasaan positif terhadap aktivitas membaca. Orang tua tidak perlu menunggu anak bisa membaca sendiri. Cukup dengan membacakan cerita dengan intonasi menarik atau menggunakan boneka tangan bisa membuat waktu membaca jadi momen yang menyenangkan. 2. Gunakan Media Interaktif dan Visual Anak-anak zaman sekarang sangat akrab dengan visual dan teknologi. Oleh karena itu, cara meningkatkan literasi anak juga bisa dilakukan melalui media digital yang mendidik, seperti aplikasi membaca interaktif, video cerita bergambar, hingga audiobook. Pilihlah konten yang sesuai usia dan tetap awasi durasi penggunaannya. Media interaktif dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkaya kosakata, dan membantu anak memahami cerita dengan lebih baik. 3. Libatkan Anak dalam Aktivitas Bercerita Anak yang terbiasa mendengarkan dan menceritakan kembali cerita akan memiliki kemampuan bahasa dan pemahaman yang lebih kuat. Itulah mengapa cara meningkatkan literasi anak bisa dilakukan dengan mengajak mereka menceritakan kembali cerita yang sudah dibaca, atau bahkan membuat cerita versi mereka sendiri. Kegiatan seperti bermain peran, membuat komik sederhana, atau menulis jurnal harian juga bisa menjadi media ekspresi yang memperkaya kemampuan literasi secara alami. 4. Sediakan Lingkungan yang Kaya Bacaan Lingkungan rumah yang mendukung adalah kunci dalam membentuk kebiasaan membaca. Salah satu cara meningkatkan literasi anak adalah dengan menyediakan sudut baca yang nyaman dan penuh pilihan bacaan. Tak perlu mahal, cukup beberapa buku cerita anak, majalah bergambar, atau kartu huruf yang ditempel di dinding. Yang terpenting adalah membuat anak merasa bahwa membaca adalah bagian dari keseharian yang menyenangkan, bukan beban. 5. Jadikan Literasi Sebagai Bagian dari Aktivitas Harian Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Saat anak membantu memasak dan membaca resep, mengenal huruf di kemasan makanan, atau saat bermain dan membaca instruksi permainan, itu semua adalah bentuk penerapan literasi dalam kehidupan sehari-hari. Memahami cara meningkatkan literasi anak secara kontekstual akan membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memahami informasi yang ada di sekitarnya dengan lebih efektif. Peran Orang Tua dalam Proses Literasi Anak Orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem literasi di rumah. Tidak cukup hanya menyediakan buku, orang tua juga perlu menjadi contoh dengan menunjukkan kebiasaan membaca, berdiskusi dengan anak, dan memberi dukungan saat mereka mencoba memahami sesuatu yang baru. Mendorong anak untuk bertanya, menjawab dengan sabar, dan mengapresiasi usaha anak juga merupakan bagian dari proses membangun literasi yang sehat. Literasi dan Dunia Digital Di era digital, kemampuan literasi semakin luas cakupannya. Selain membaca teks, anak juga perlu belajar memahami informasi dari media sosial, video, dan berbagai platform online. Oleh karena itu, salah satu cara meningkatkan literasi anak modern adalah mengenalkan mereka pada teknologi secara bijak. Coding, misalnya, merupakan salah satu bentuk literasi digital. Dengan belajar coding, anak terbiasa berpikir sistematis, menyusun logika, dan menyelesaikan masalah dengan struktur yang jelas. Ini dapat mendukung kemampuan membaca dan berpikir kritis mereka secara keseluruhan. Bangun Literasi Anak Dengan Aktivitas Digital Membangun kebiasaan literasi anak tidak bisa dilakukan dalam semalam. Tapi dengan pendekatan yang menyenangkan dan konsisten, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang cakap, kritis, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Sebagai tambahan, jika Anda ingin mengenalkan anak pada literasi digital sejak dini, Timedoor Academy menyediakan kelas coding yang dirancang khusus untuk anak-anak. Kelasnya interaktif, menyenangkan, dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak. Yuk, coba kelas gratisnya hari ini dan bantu anak Anda tumbuh dengan kemampuan yang lengkap untuk masa depan.
Dari Customer Menjadi Partner: Lebih dari 70 Orang Tua Hadir di Webinar Parentpreneurship Timedoor Academy
Dari Customer Menjadi Partner: Lebih dari 70 Orang Tua Hadir di Webinar Parentpreneurship Timedoor Academy
Pada hari Sabtu, 17 Mei 2025, Timedoor Academy mengadakan webinar bertajuk “Parentpreneurship: Dari Customer Menjadi Partner”, sebuah program khusus yang ditujukan untuk orang tua siswa aktif yang tertarik menjajaki peluang kemitraan bisnis bersama Timedoor Academy. Acara Parentpreneurship Timedoor Academy ini berhasil menarik lebih dari 70 peserta, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kolaborasi di bidang pendidikan teknologi. Webinar ini dibuka oleh Yutaka-san, CEO Timedoor Academy, yang memaparkan visi besar Timedoor dalam memperluas akses pendidikan IT berkualitas ke seluruh Indonesia melalui kerja sama strategis dengan para mitra, termasuk orang tua siswa. Hadir pula dua tamu inspiratif yang telah lebih dulu menjalankan kemitraan bersama Timedoor Academy: Bapak George Purba, yang berpengalaman di industri F&B, kini telah membuka dua cabang Timedoor Academy dan sedang mempersiapkan cabang ketiganya. Bapak Iskandar, yang sukses membawa Timedoor Academy ke Gorontalo dan Manado, dan kini juga tengah menyiapkan cabang ketiga. Keduanya menunjukkan bahwa kemitraan ini bisa dijalankan oleh siapa saja, bahkan tanpa latar belakang di bidang pendidikan atau bisnis teknologi, selama ada semangat dan komitmen untuk berkembang bersama. Webinar Parentpreneurship Timedoor Academy ini ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif serta pemaparan proposal bisnis dan analisis pasar, yang memberi gambaran menyeluruh bagi para peserta yang berminat menjadi bagian dari keluarga besar Timedoor Academy sebagai partner resmi. Kami ucapkan terima kasih atas partisipasi para peserta Parentpreneurship Timedoor Academy. Semoga acara ini menjadi langkah awal menuju kolaborasi yang berdampak dan berkelanjutan. Ketinggalan event ini? Jangan khawatir! Kamu bisa langsung hubungi tim kami melalui Chat on WhatsApp atau cek informasi lengkap tentang program kemitraan Timedoor Academy di: 🔗 https://timedooracademy.com/partnership-franchise-investment/
float button